Sebelum Capsule Wardrobe Jadi Tren

made by AI

Magic Mix & Match
+ Merawat Barang Lama


Sejak kecil aku sering dengar orang bilang: “Jangan boros, sayangi barangmu.”
 
Tapi bagi aku itu bukan sekadar nasehat. Itu sudah hidup dalam daily vibes rumah sejak aku kecil banget, karena Ibuku adalah seorang queen of home aesthetic dan kurator barang-barang berkualitas.. beliau yang mengajarkanku tentang hidup minimalis yang smart, stylin’, and sustainable banget.

Ketika Mix & Match Bukan Sekadar Gaya — Tapi Lifestyle

Kalau anak-anak seusia aku dulu lebih kepo soal fashion yang trending-trending, aku justru dibesarkan dengan prinsip yang agak different: pakai apa yang sudah ada, tapi pakai dengan cara yang fresh.

Bukan berarti aku nggak boleh beli baju baru loh, yaa.. tapi Ibu selalu bilang dalam bahasa Jawa halusnya yang ngena banget:

“Barang itu kalau dirawat baik-baik, soalnya satu saat nanti akan kembali jadi barang yang trend lagi.”

Dan dia memang serius. Tadinya sih jujur aja, aku enggak percaya (-__-)'

Setiap Minggu pagi, tuh biasanya aku lihat Ibu membuka lemari, lalu mulai curate outfit untuk hari itu. Ibu kan penggiat macam-macam, mulai dari ibu-ibu Dharma Wanita, sampe jadi penggerak PKK dan bisnisnya sendiri, dulu beliau jago menyanggul, sering dapat pesanan katering dan diundang jadi pembicara untuk merangkai bunga ala Jepang a.k.a Ikebana.

Kadang aku sampe bingung dia kayak gak pernah kehabisan baju. Nah, kenapa Ibu bisa bikin bawahan yang sama dipadu dengan atasan lawas jadi keliatan vibe-nya aesthetic banget? Itu mix & match level master, cuy! 

Ibu ngajarin aku gimana caranya menggabungkan piece yang ada, walau itu bukan wardrobe baru atau keluaran brand hype sehingga jadi tetap chic dan elegan.

Bukan berarti kita anti fashion baru atau anti belanja sih. Tapi mindset-nya beda. Ibu ngajarin aku buat berpikir:

“Kalau bisa maksimalin yang udah ada, kenapa harus beli yang baru?”

Boom! Itu mindset minimalis yang super impactful buat aku sampai sekarang.

Barang Lama yang Justru Lebih Estetis


Ngomongin soal barang lama, rumahku itu semacam museum kecil yang estetik (menurut keyakinan saya wkwkwkk ) walau diterjang banjir berkali-kali. Tapi bukan karena semua barangnya kuno atau berat waktu sih. Tapi karena cara perawatannya yang epic.

Ibuku tuh "kunci banget" soal:

Kualitas > Kuantitas
Belanja barang itu bukan soal banyaknya, tapi soal kualitasnya.
Jadi kalau Ibu beli sesuatu, itu bener-bener terencana, bukan impuls.

Perawatan = Cinta
Ibu hobi membersihin barang, ngecek setiap detailnya, nge-wrap rapih — bahkan sampai pake dust bag buat barang-barang tertentu. Terbukti, tas-tas koleksi beliau sampai detik ini bisa dipake aku dan... turun ke anakku! 

Yaassshhh... beib, dengan catatan tasnya hanya boleh dipinjem aja, jadi kita bebas make, tapi kita gak boleh "memiliki" hihi.. iya soalnya aku anaknya sembarangan banget kali yah, aku juga ga ngerti, jadi barang yang aku punya umurnya agak sempit..

Nah, jadi barang-barang di rumahku itu masih affordable digunakan, walau udah puluhan tahun. Dan, kayak wardrobe vintage yang tiba-tiba hype lagi karena heritage aesthetic gitu loh. Mo liat, contohnya gak?



Contoh yang kupake ini, ini sebenernya blazer klasik dari tahun 90-an yang dulu dibeli Ibu untuk kondangan. Sekarang, aku masih bisa pakai itu tapi dipadu sama celana high waisted atau jeans kekinian, dan ... bisa tetep terlihat stylish kan, yah? Menurut keinginan keyakinan sayaaaa....

Mengemas Barang Itu Kunci Estetika Lama yang Tetap Relevant


Tadi udah kubilang, salah satu hal yang selalu bikin aku terpesona adalah gimana Ibu menyimpan barang-barangnya. Semua sepatu punya box sendiri. Tas-tas masuk dust bag. Baju-baju digantung rapi dengan jarak pas, supaya ga gampang kusut.

Itu bukan sekadar rapi-rapi biasa ya, tapi kayak:

curation space
(semacam galeri fashion versi rumah)

Dan yang bikin gemes: Ibu tau banget value dari packaging yang proper. Karena, menurut beliau, barang yang disimpan dengan baik itu:
  • Lebih tahan lama
  • Tetap bersih dari debu & jamur
  • Lebih enak dipandang — jadi vibe rumah juga ikut estetik
Pokoknya rumah kami tuh bukan cuma nyaman, tapi punya “nyawa” karena semua barang punya tempat dan cerita.

Apa yang Aku Pelajari dari Ibu soal Minimalis?

Kalau anak Gen Z sekarang ngomong soal capsule wardrobe atau sustainable fashion, itu sebenarnya nggak jauh beda sama apa yang Ibuku praktikkan puluhan tahun sebelum istilah-istilah itu populer. Tapi bedanya:

Ibu nggak sekadar ikut tren, beliau udah menciptakan lifestyle yang timeless.

Beberapa pelajaran penting yang aku bawa sampai sekarang:

1. Kurangi beli, tapi tambah kualitas
Daripada beli 10 kaos murah yang cepat rusak, mending punya 3 kaos berkualitas yang awet dan tetap stylish.

2. Pelajari cara mix & match
Dengan skill mix & match yang oke, kamu bisa bikin outfit baru dari item lama tanpa harus boros belanja.

3. Rawat barangmu kayak temanmu sendiri
Kalau kamu sayang sama barang itu, kamu akan merawatnya. Dan barang itu akan “sayang balik” karena dia tetap awet.

4. Minimalis itu bukan pelit — tapi smart
Minimalis bukan berarti nggak beli apa-apa, tapi lebih ke belanja dengan niat, nilai, dan tujuan.

Minimalis Itu Bukan Sekadar Estetika

Siapa sangka, pelajaran kecil dari Ibu itu nempel banget di aku sampai dewasa.  Ya apalagi sejak aku jadi IRT. 

Jujurly, saat ini buat aku, hidup minimalis bukan sekadar estetika atau trend. Itu udah jadi semacam pattern rumah buat aku, suami dan anak-anakku. 

Sekarang aku ngerti, kenapa dapur - sumur - kasur haram berantakan dan haram kotor. Karena itu akan bikin hidup jadi lebih tenang, dan ngurangin stress karena barang berantakan itu emang bikin stres!

Jadi,  dari Ibu, dari rumah, dari hal-hal kecil yang beliau lakukan setiap hari, itu ternyata jauh lebih powerful daripada sekadar hashtag #sustainablefashion di Instagram 🙂

So, gimana menurut kalian, gimana cara kalian berusaha hidup lebih minimalis atau pengen punya vibe lifestyle yang lebih estetis dan mindful?  

Gitu deh. Ahhh, jadi kangen ngobrol sama Ibu soal fashion lawas dan outfit mix & match aku hari ini.. see you!

Komentar